Skip to main content

#20 Rindu yang hadir hanya untuk saat itu

Tidak perlu tegur sapa,
karna kau hanya lewat, 
tapi kemudian kau berhenti,
dan beraninya duduk disamping ku,
oke! kau boleh duduk disampingku,
tapi tetap saja tak perlu kau tegur sapa,

kemudian kau tersenyum,
dan beraninya menatap mataku,
dan sekali lagi oke!! kau boleh tersenyum kepadaku,
tapi tetap saja tak perlu kau tegur sapa,

kemudian kau tegur sapa kepadaku,
dan beraninya kau ingat namaku,
dan sekali lagi oke!! kau boleh ingat namaku,
tapi jangan coba untuk kau peduli kepada aku yang dulu,

kemudian kau menanyakan saat aku yang dulu,
dan beraninya kau pasang wajah kasihanmu,
dan sekali lagi oke!! saya seharusnya sadar yang kulakukan seharusnya bukan melarangmu,
tapi semulanya aku harus berangkat dari tempat duduk itu dan tak kusadari selama kududuk dan melarangmu, sebenarnya aku ingin tegur sapa denganmu, tapi buruk sikap saat itu membuatku mengancam rasa rinduku untuk berbincang denganmu.

Comments

Popular posts from this blog

#34 Tanggung Sendiri

kita benar benar berkuasa atas apa yang akan kita putuskan dan apa yang akan kita jalani, saya sadari dari sepanjang perjalanan hidup menuju ke pendewasaan diri beberapa keputusan mungkin berat ke arah yang salah, tapi setidaknya kita sadar setelah fase yang disebut penyesalan itu telah terlewati, kita sadar bahwa kita adalah orang yang tangguh dan kuat untuk menopang segala konsekuensi keputusan itu. lucu memang jika dikenang kembali, terkadang sesekali teringat dan langsung membuat diri tersenyum sendiri. jadi ambil tanggung jawab atas keputusan yang dibuat oleh diri sendiri, karna yakinlah hanya kita sendirilah yang bertanggung jawab untuk diri kita sendiri.

#37 Mengikhlaskan banyak kekalahan

manusia tidak pernah bisa belajar tanpa rasa sakit, kesakitan kesakitan yang dialami sampai telah dilewati mampu jadi pembelajaran yang ampuh untuk kebanyakan orang, bagi yang berpikir dan beruntung mereka selalu berpikir tentang potensi risiko sehingga hanya sedikit melewati kesakitan, ya tetap saja merasakan walau sedikit, bagi yang kurang beruntung yah harus melalui kesakitan dengan porsi yg cukup banyak untuk dapat pembelajaran, bukan tidak berpikir, tapi lebih ke alamiah proses hidup masing-masing, menerima semua menjadikan dewasa, tapi bagi saya melewati semua itu seperti mengikhlaskan banyak kekalahan untuk menjadi pemenang.